FKUB Kota Medan Luncurkan Buku “Menggali Akar Kerukunan Antar Umat Beragama di Kota Medan: Sejarah Tokoh, dan Kontribusi Pemikiran”

Upaya merawat dan meneguhkan kerukunan umat beragama di Kota Medan terus diperkuat melalui kerja-kerja dokumentasi dan refleksi sejarah. Komitmen tersebut diwujudkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Medan dengan meluncurkan sebuah buku bertema kerukunan umat beragama pada 30 Desember 2025, bertempat di Nivia Hotel Medan.

Buku yang diluncurkan berjudul “Menggali Akar Kerukunan Antar Umat Beragama di Kota Medan: Sejarah Tokoh, dan Kontribusi Pemikiran.” Karya ini ditulis oleh Azhari Akmal Tarigan, Ahmad Tamami Jakfar, dan Muhammad Syukri Albani Nasution, sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan sejarah, peran tokoh, serta kontribusi pemikiran yang membentuk dan menopang kerukunan antarumat beragama di Kota Medan.

Dalam laporannya, Ketua Panitia Peluncuran Buku, Prof. Dr. Muhammad Syukri Albani Nasution, menegaskan bahwa buku tersebut tidak hanya dimaksudkan sebagai dokumentasi ilmiah, tetapi juga sebagai warisan intelektual yang penting bagi generasi mendatang.

“Buku ini kami hadirkan sebagai warisan. Ia menjadi bukti bahwa akar kerukunan di Kota Medan sangat kuat, hidup, dan telah dirawat oleh banyak tokoh lintas agama sejak lama,” ujar Prof. Syukri.

Menurutnya, kerukunan yang selama ini terjaga di Kota Medan tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan melalui proses sejarah yang panjang dan melibatkan peran banyak pihak lintas agama dan lintas komunitas.

“Kerukunan ini bukan sesuatu yang hadir secara instan. Ia dibangun melalui dialog yang berkelanjutan, keteladanan para tokoh, serta komitmen bersama lintas agama yang konsisten menjaga ruang kebersamaan di tengah masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pendokumentasian sejarah kerukunan memiliki arti penting bagi keberlanjutan kehidupan sosial dan keagamaan di Kota Medan.

“Dokumentasi sejarah kerukunan ini penting agar nilai-nilai kebersamaan, dialog, dan saling menghormati yang telah tumbuh tidak hilang oleh perubahan zaman, sekaligus dapat menjadi rujukan bagi generasi berikutnya dalam merawat kehidupan beragama yang damai,” tutupnya.

Sementara itu, Ketua FKUB Kota Medan, H. Muhammad Yasir Tanjung, menekankan bahwa peluncuran buku ini mencerminkan arah kebijakan FKUB yang berbasis pendekatan ilmiah dan reflektif dalam menjalankan kerja-kerja kerukunan umat beragama.

“FKUB Kota Medan menjalankan kerja-kerja kerukunan dengan pendekatan yang ilmiah. Setiap langkah dan kebijakan yang kami ambil selalu berangkat dari kajian, dialog, dan refleksi,” tegas Yasir.

Ia menyebutkan bahwa kehadiran buku ini menjadi bukti konkret bahwa FKUB tidak hanya bergerak pada tataran praktis, tetapi juga membangun fondasi pemikiran yang terdokumentasi dengan baik.

“Buku ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan dan langkah FKUB tidak berdiri di ruang kosong, tetapi memiliki dasar pemikiran, landasan akademik, dan dokumentasi yang kuat,” katanya.

Lebih lanjut, Yasir menegaskan bahwa buku tersebut memiliki nilai penting karena merupakan karya pertama yang secara sistematis mendokumentasikan sejarah kerukunan umat beragama di Kota Medan.

“Ini adalah buku pertama yang berhasil mendokumentasikan sejarah, tokoh, dan dinamika kerukunan umat beragama di Kota Medan. Karena itu, buku ini layak menjadi legacy FKUB Kota Medan,” tambahnya.

Menurut Yasir, dokumentasi semacam ini penting agar kerja-kerja kerukunan yang telah dilakukan tidak berhenti sebagai praktik sesaat, melainkan menjadi pengetahuan kolektif yang dapat dipelajari dan dikembangkan pada masa mendatang.

Mewakili para penulis, Azhari Akmal Tarigan menjelaskan bahwa buku ini disusun dengan pendekatan sejarah dan tokoh sebagai upaya membaca akar-akar kerukunan umat beragama di Kota Medan. Namun demikian, ia menegaskan bahwa para penulis menyadari adanya keterbatasan dalam ruang penulisan, ketersediaan sumber sejarah, serta jangkauan data yang berhasil dihimpun.

“Buku ini berbicara tentang sejarah, siapa tokohnya, dan apa kontribusinya terhadap kerukunan di Kota Medan. Namun kami menyadari bahwa apa yang kami tuliskan baru sebagian kecil dari keseluruhan tokoh dan peristiwa yang sesungguhnya ada,” ungkap Azhari.

Guru Besar UIN Su ini menekankan bahwa tidak tercantumnya sejumlah nama tokoh dalam buku ini bukanlah bentuk pengabaian atau penilaian atas peran mereka, melainkan konsekuensi akademik dari keterbatasan sumber dan ruang kajian.

“Tidak dimasukkannya beberapa nama bukan berarti kami mengabaikan peran mereka. Ini lebih merupakan keterbatasan akademik, baik dari sisi data, sumber sejarah, maupun ruang penulisan yang tersedia,” jelasnya.

Menurut Azhari, buku ini sejak awal dirancang sebagai karya yang terbuka dan memungkinkan untuk terus dikembangkan seiring dengan bertambahnya temuan data dan kajian baru.

“Karya ini bersifat terbuka dan dinamis. Kami justru berharap buku ini menjadi pintu awal untuk diskusi yang lebih luas, penelitian lanjutan, dan pengayaan perspektif tentang kerukunan umat beragama di Kota Medan,” katanya.

Ia juga mendorong keterlibatan aktif pembaca, peneliti, dan pemerhati kerukunan untuk memberikan masukan yang konstruktif demi penyempurnaan karya tersebut.

“Kami sangat terbuka terhadap masukan, kritik konstruktif, serta informasi tambahan. Sikap terbuka terhadap perbaikan ini sejalan dengan semangat inklusivitas ‘Medan untuk Semua’ yang menjadi ruh dari buku ini,” pungkasnya.

Peluncuran buku ini juga menghadirkan tiga narasumber sebagai bagian dari refleksi atas isi buku sekaligus sebagai penguatan terhadap substansi dan arah pengembangannya pada masa mendatang. Kehadiran para narasumber ini dimaksudkan untuk memberikan perspektif akademik dan pengalaman praktis dalam membaca kontribusi buku tersebut bagi penguatan kerukunan umat beragama di Kota Medan.

Salah satu narasumber yang hadir adalah Prof. Irwansyah, pakar hubungan antaragama dan akademisi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN SU). Dalam tanggapannya, ia menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku yang dinilainya memiliki nilai penting, baik secara akademik maupun sosial.

“Buku ini penting karena tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga merawat ingatan kolektif tentang bagaimana kerukunan dibangun dan dijaga di Kota Medan,” ujarnya.

Menurut Prof. Irwansyah, dokumentasi seperti ini memiliki arti strategis karena membantu masyarakat memahami bahwa kerukunan bukanlah sesuatu yang hadir secara tiba-tiba, melainkan hasil dari proses sosial yang panjang dan berkelanjutan.

“Kerukunan adalah hasil dari dialog yang terus-menerus, komitmen bersama, serta keteladanan para tokoh lintas agama dalam kehidupan sosial sehari-hari. Semua itu tercermin dengan baik dalam buku ini,” katanya.

Ia menambahkan bahwa pencatatan sejarah kerukunan menjadi penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki rujukan yang jelas tentang bagaimana harmoni sosial dibangun dan dipertahankan di tengah keberagaman.

“Ketika pengalaman dan praktik baik kerukunan ini didokumentasikan, maka ia tidak hanya menjadi arsip, tetapi juga menjadi sumber pembelajaran bagi masa depan,” pungkas Prof. Irwansyah.

Apresiasi juga disampaikan oleh XS. Djohan Adjuan, narasumber kedua yang merupakan rohaniwan Khonghucu, yang menilai buku ini sebagai wujud nyata komitmen lintas iman yang telah lama tumbuh dan terpelihara di Kota Medan.

Dalam pandangannya, buku tersebut tidak hanya merekam fakta dan peristiwa, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai hidup bersama yang selama ini dijalankan oleh umat beragama di Kota Medan.

“Buku ini mencerminkan semangat kebersamaan dan saling menghormati yang selama ini kami rasakan di Kota Medan. Kerukunan bukan sekadar slogan, tetapi praktik yang benar-benar hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan bahwa dokumentasi kerukunan seperti ini penting untuk memperkuat rasa saling percaya antarumat beragama serta menjaga ruang dialog tetap terbuka di tengah keberagaman.

“Dengan adanya buku ini, kita memiliki pegangan bersama bahwa kerukunan adalah hasil dari sikap saling memahami dan menghargai. Ini perlu terus dirawat dan diwariskan,” tambahnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Pastor Gunawan dari Gereja Katolik, yang juga hadir sebagai narasumber dan menilai buku tersebut sebagai referensi penting, khususnya bagi generasi muda dalam memahami makna kerukunan umat beragama.

Menurutnya, dokumentasi sejarah kerukunan memiliki peran strategis sebagai sarana pendidikan sosial yang mampu menanamkan nilai-nilai toleransi dan kebersamaan sejak dini.

“Dokumentasi seperti ini sangat berharga agar generasi selanjutnya memahami bahwa kerukunan tidak lahir secara tiba-tiba. Kerukunan tumbuh melalui proses panjang, dialog yang terus-menerus, serta keteladanan para tokoh lintas agama,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa buku ini dapat menjadi rujukan moral sekaligus inspirasi bagi generasi muda untuk melanjutkan tradisi hidup rukun di tengah keberagaman yang menjadi ciri khas Kota Medan.

“Ketika sejarah kerukunan dicatat dan diwariskan, generasi muda tidak hanya membaca masa lalu, tetapi juga belajar bagaimana merawat masa depan bersama,” tambahnya.

Peluncuran buku ini menegaskan komitmen FKUB Kota Medan untuk terus merawat dan memperkuat kerukunan umat beragama, tidak hanya melalui dialog dan praktik sosial di tengah masyarakat, tetapi juga melalui kerja-kerja intelektual, refleksi akademik, serta pendokumentasian sejarah sebagai fondasi bagi kerukunan yang berkelanjutan.[ATJ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *